Selasa, Februari 17, 2009

Liturgi


MERANGKAI IBADAH YANG KREATIF
Oleh: Mariane Pisca de Jong, S.Si (Theol)


§ Liturgi, Ibadah atau Kebaktian?
Ada berbagai istilah yang kita kenal dan sering kita pakai dalam persekutuan gereja. Ada yang memakai istilah liturgi, ibadah atau kebaktian. Yang mana yang benar? Semua benar, jika kita memahaminya sebagai ungkapan diri kita sepenuhnya kepada Allah.
Kata Liturgi berasal dari bahasa Yunani leitourgia (ergon: karya; leitos atau kata sifatnya laos: bangsa). Jadi secara harfiah, leitourgia berarti karya atau pelayanan yang dibaktikan untuk kepentingan bangsa. Sejak abad 4 sM, pemakaian kata leitourgia ini diperluas, yakni untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan, demikian juga dalam arti kultis, leitourgia berarti pelayanan ibadah, karya untuk Allah.
Ibadah sendiri berasal dari bahasa Ibrani Abodah yang berarti bakti, dan kemudian acaranya kita sering sebut kebaktian. Ketika kita memahaminya sebagai karya dan bakti kepada Allah, sudah tentu karya itu harus baik, bagus, teratur, khidmat, sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah.
§ Pelayan Ibadah yang Kreatif
Ibadah bukan merupakan karya pemimpin dan milik satu orang saja. Ibadah merupakan karya umat. Seluruh umat berkarya dan mengungkapkan syukur kepada Allah bersama-sama. Untuk keteraturan, tentu harus ada yang memimpin dan mengatr setiap bagiannya. Ada pengkhotbah, pemimpin pujian, pembaca Alkitab/Lektor, pendoa, pembawa kolekte. Semuanya adalah pelayan ibadah dengan perannya masing-masing.
Bagaimana menjadi pelayan ibadah yang kreatif?
Pelayan ibadah yang kreatif tentu tidak akan melewatkan “2 M”, yaitu:

Mari mencari tahu:
ü Masa apa yang saat ini dirayakan dalam tahun liturgy?
ü Darimana bacan Alkitab (leksionari) yang menjadi dasar pembinaan umat?
ü Apakah tema ibadah hari ini?
ü Nyanyian yang sesuai dengan tema dan unsur ibadah?
ü Pokok doa?

Mari Berkreasi:
ü Berkreasi dalam nyanyian (bernyanyi secara kanon, responsoris, antifonal)
Kanon : dinyanyikan bersahutan, seperti air mengalir
Responsoris : dialog nyanyian antara pemimpin pujian dengan orang banyak
Antifonal : dialog nyanyian antara dua kelompok nyanyi
ü Berkreasi dalam musik (menggukan alat musik elektrik, akustik, musik tradisional dan sebagainya)
ü Berkreasi dalam doa (berdoa berkelompok, responsorial, berdoa dalam hening, berdoa dalam gerak)
ü Berkreasi dalam pembacaan Alkitab dan renungan (pendarasan-khusus untuk Mazmur, pendalaman ALkitab dan lain sebagainya)
ü Berkreasi dalam ruang Liturgy (menampilkan warna sesuai tahun liturgy dalam ruang ibadah, dekorasi yang sesuai dengan tahun liturgy dan tema).

§ Merangkai Ibadah yang Kreatif
Mengapa perlu membuat ibadah yang kreatif? Apa maksudnya? Ibadah yang kreatif seharusnya menjadi karya yang berkualitas, yang terbaik kita berikan kepada Allah dan membangun kita sebagai umat-Nya.
Ibadah yang kreatif adalah ibadah yang:
ü Utuh, memiliki struktur liturgy yang utuh yaitu:
§ Komunikasi antara Allah dan manusia (dialogis: Anabatis-Katabatis)
Anabatis : Allah menawarkan kasih kepada manusia
Katabatis : Tanggapan manusia atas karya Allah
§ Pengenangan sebagai perayaan kehadiran karya keselamatan Allah di dalam Kristus (anamnesis)
§ Seruan permohonan bagi turunnya Roh Kudus (eplikesis)
§ Menghadirkan kehadiran Kristus yang dialmbangkan dalam ruang, benda dan aktivitas ibadah (simbolis)
ü Kontekstual, berkarya sesuai dengan situasi dan kondisi untuk lebih membangun umat.
ü Sesuai tahun liturgy, sejalan dengan siklus perayaan liturgy setiap tahunnya dari masa adven – natal – epifania – pra paskah – paskah – kenaikan Tuhan Yesus – Pentakosta – minggu biasa
Siklus tahun liturgy telah dibuat gereja dengan menggunakan sistem yang telah ada dalam budaya masyarakat yakni sistem bulan dan matahari. Masa raya ini diatur sedemikian rupa agar jemat dapat merayakan, memahami dan mengenang karya agung Allah secara utuh dalam satu tahun.
ü Tematik, memiliki tema setiap minggu yang menjadi fokus dalam pembinaan umat.

Keempat hal di atas merupakan hal yang seharusnya ada dalam ibadah, bisa tersurat maupun tersirat dalam perayaan kita. Sedangkan tata ibadah memuat susunan unsur-unsur liturgy yang kita lakukan bersama. Tata ibadah disusun supaya ibadah itu tertib, teratur dan khidmat. Tata ibadah sendiri bukanlah tujuan, melainkan alat untuk melayani Tuhan dalam perayaan kita. Semua itu dapat dibuat sekreatif, seindah, semenarik mungkin namun juga maknawi, sebagai abodah kepada Tuhan.

Tiada yang lebih indah dari segalanya selain membuat karya yang terbaik
sebagai ungkapan syukur kepada Sumber Kehidupan
selamat melayani Tuhan
Cara Sederhana Melatih Paduan Suara Anak


PEMANASAN
¯Latih pernafasan
3-3-3 artinya tarik nafas 3 hitungan, tahan 3 hitungan, lepaskan 3 hitungan (buang sisanya..)
3-3-6 artinya tarik nafas 3 hitungan, tahan 3 hitungan, lepaskan 6 hitungan (buang sisanya..)
3-3-9 artinya tarik nafas 3 hitungan, tahan 3 hitungan, lepaskan 9 hitungan (buang sisanya..)
Kemudian 3-3-12, 3-3-15 ... dan seterusnya sampai 3-3-24 (tapi untuk awal bisa sampai 15 saja)
(U yang hemat ya adik-adik, seperti balon yang ‘dikempesin’ perlahan-lahan, ndak boleh curi nafas atau nyambung-nyambung pas buang nafasnya..yang iiiiirit)

¯Latih vokal dengan notasi
Notasi ‘jalan’, misalnya:
- 1-2-3-2-1 (do-re-mi-re-do) dari c’ naik setengah nada dst. Sampai c’’
- 1-2-3-4-5-4-3-2-1
Notasi ‘lompat’, misalnya:
- 1-3-5-3-1 (do-mi-sol-mi-do)
- 1-3-5-1’-5-3-1

¯Latih vokal dengan kata-kata
- Bisa pake na-na-na-na, babibubebo,cacicuceco dll.
- Bisa pake nama-nama mereka

¯Latih vokal dengan lagu-lagu sederhana yang sudah diketahui (atau lagu pendek yang bisa dipakai untuk pemanasan,misalnya lagu KC 118)

LATIHAN INTI
¯Melatih lagu baru pada anak-anak
- Pelajari isi lagu menceritakan tentang apa
- Nyanyikan melodi lagu secara utuh kepada anak-anak
- Ajak anak-anak menyanyikan lagu dengan notasi angka (dengan tempo yang agak lambat dari tempo sebenarnya)
- Membacakan syairnya kepada anak-anak,kemudian anak-anak diminta mengikuti per kalimat (terutama bila banyak yang masih TK)
- Nyanyikan lagu per baris atau per kalimat lagu, kemudian minta anak-anak untuk mengikuti
- Ajak mereka menyanyikan bersama-sama dari awal sampai akhir
(apabila ada kesalahan, segera berhenti dan perbaiki, supaya anak-anak tahu dimana kesalahannya dan tidak terlanjur ‘terbiasa’ salah di bagian tersebut)



¯Melatih harmonisasi lagu (‘pecah suaranya’)—tentu saja bila anak-anak telah dibagi kelompok suaranya sesuai aransemen lagu
- Karena suara 1/sopran/melodi lagu sudah dilatih,maka bisa lebih fokus melatih suara altonya dengan menyanyikan notasinya per baris atau per kalimat, dan ajak anak-anak untuk mengikuti.
- Ajak anak-anak menyanyikan lagu (bagian altonya) secara keseluruhan (jangan lupa, setiap ada kesalahan, segera diperbaiki)
- Ajak semua anak-anak menyanyikan lagu sesuai pembagian suaranya dan perhatikanlah benar-benar mana yang masih fals, segera perbaiki (bagian ini akan lebih mudah apabila ada 2 pelatih atau guru sekolah minggu yang membantu, sehingga baik sopran maupun alto ada yang mendampingi, terlebih bila paduan suara ini baru diadakan—tentu butuh dukungan banyak pihak, mulai dari guru sekolah minggu,orang tua juga majelis gereja)
- Jika anak-anak masih sering terbawa suara teman-temannya (maksudnya jika dilatih suara altonya sudah lancar, tetapi ketika digabung dengan suara sopran masih sering ikut suara sopran, dan sebaliknya), maka ajaklah anak-anak menyanyikan lagu kanon yang sederhana (contoh lagu kanon: Kidung Ceria 152 ‘Bersyukur kepada Tuhan) supaya anak terlatih untuk mendengarkan suara teman-temannya dan mempertahankan nadanya sendiri sehingga tidak mudah terbawa suara yang lain.

¯Melatih dinamika lagu
Bagian ini merupakan finishing yang juga sangat penting hingga anak-anak dapat menyanyi dengan baik dan dengan ekspresi yang menarik. Dinamika lagu maksudnya adalah keras lembutnya suara.
- Ceritakanlah pada anak-anak bahwa lagu tersebut bercerita tentang apa, dan anak-anak harus berbuat apa (mengajak-kah,bercerita-kah,atau ...dll)
- Ajak anak-anak menyanyi sesuai tanda dinamika dalam partitur (jika tidak ada, kita buat sendiri bagian mana yang lembut dan yang harus tegas)

PEMBAGIAN SUARA
- Pembagian suara dilakukan pada tiap anak (satu per satu) untuk mengetahui warna suara anak:
Sopran (lebih ringan, lebih tinggi) dengan range nada c’ sampai f’’
Alto (lebih berat, lebih rendah) dengan range nada f sapai b’
- Minta tiap anak menyanyi 1-2-3-2-1 (yang paling sederhana) dan temukan warna suara serta kemampuan anak.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar